SWARA KITA



 

 



Pahlawan

 

 

 

Seorang manusia memiliki dua sisi kehidupan. Baik dan buruk.
Apabila sisi baik lebih mendominasi dalam kehidupannya laksana lebah yang memakan makanan yang baik dan membuang sisa-sisa makanannya dalam bentuk madu, maka besar kemungkinan dia akan dikenang sebagai seorang manusia yang baik, atau berguna bagi sesama. Namun belum dalam takaran sebagai pahlawan. Karena seorang pahlawan hanya bekerja, berusaha dan mengabdikan hidupnya tanpa mengharapkan pujian, gelar dan penghormatan dari manusia lainnya, dia hanya berharap keridhaan Allah SWT dan akhirnya mendapatkan balasan atau pahala dalam Syurga.
Apabila sisi gelap, buruk dan jahat dalam kehidupannya lebih membekas dan selalu dikenang orang, maka tidak mustahil dia tergolong orang yang tidak patut disebut baik, panutan bahkan pahlawan.
Seorang pahlawan adalah seorang manusia yang melakukan dan melaksanakan tugasnya melebihi dari kewajiban yang harus dilakukannya dan hasilnya dirasakan sangat bermanfaat bagi segenap orang. Singkatnya pahlawan adalah orang yang berbuat baik untuk orang lain melebihi manfaat yang didapat untuk dirinya.
Sekarang bertepatan dengan hari pahlawan kita seperti disodorkan dengan pemaksaan image sebuah kebaikan untuk menangguk keuntungan secara pribadi atau golongan.
Bahwa orang tersebut layak mendapat gelar pahlawan adalah sebuah imaginasi yang dipaksakan. Karena kategori seorang pahlawan tadi adalah dia berbuat melebihi dari kewajiban yang harus dilaksanakan dengan ikhlas tanpa mengharap pujian atau sanjungan sekalipun. 
Perbandingan sederhana dapat kita kemukakan dimana negara Malaysia yang notabene memiliki masa kemerdekaan tidak jauh bahkan lebih muda dari Indonesia telah mampu menyediakan kesempatan kerja dan berusaha bagi sebagian tenaga kerja Indonesia. Dengan kata lain banyak warga Malaysia telah menjadi juragan, majikan dan tempat bekerja dari sebagian orang Indonesia. Disini terlihat tingkat sosial masyarakat Indonesia dibawah tingkat sosial masyarakat lainnya.
Sungguh suatu hal yang sangat ironis mengingat sejarah dimana sebelumnya banyak warga Malaysia yang belajar menimba ilmu dan pengalaman di Indonesia. Dan kalau dilihat dari sumber daya alamnya sebenarnya kekayaan alam Indonesia dan hamparan lautnya melebihi kekayaan alam negara Malaysia tersebut.
Dalam konteks tersebut belum ditemukan tokoh pemimpin Malaysia yang disebut warganya sebagai seorang yang layak menyandang gelar pahlawan, walaupun telah menghantarkan rakyatnya ke dalam pembangunan yang melebihi Indonesia.
Mengapa Malaysia kita angkat sebagai contoh dalam hal ini karena sebuah perbandingan itu diperlukan untuk menjadi indikator yang rasional. Malaysia layak sebagai contoh karena memiliki kedekatan dan nilai-nilai kehidupan yang hampir mirip dengan sosial masyarakat Indonesia.
Hal ini sebenarnya menjadi bukti bahwa kemampuan sumber daya manusia Indonesia, baik itu pemimpinnya, gurunya dan sebagainya tidak mampu berkarya secara optimal. Bisa jadi karena sistem birokrasi yang jelek, atau rekruitmen yang tidak berdasarkan ilmu dan kemampuan, dan juga pola pendidikan yang rendah. Semua itu seharusnya menjadikan kita sadar bahwa kita tidak perlu berkutat pada perlu atau tidaknya seorang pemimpin bangsa diberi gelar pahlawan. Tetapi yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengejar ketertinggalan pembangunan manusia dan pembangunan prasarana bangsa Indonesia ini dari bangsa dan negara lain. Betapa malunya kita kalau tenaga kerja Indonesia bekerja di luar negeri hanya dalam kelas pekerja kasar, jongos dan pelayan saja. Mengapa kita tidak berpikir menciptakan kesempatan kerja yang luas di dalam negara Indonesia yang memiliki lahan dan sumber daya alam yang masih luas dan melimpah ini?
 
Pemimpin dan Kepemimpinan
Kewajiban seorang pemimpin memang sangat berat dan komplek. Oleh karena itulah budaya Islam memberikan contoh bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang diberi amanah secara sadar dan alamiah. Sadar berarti yang memilih dan dipilih menentukan pilihannya atas dasar keyakinan yang datang dari hati dan pikirannya. Sedangkan alamiah berarti wajar tanpa basa-basi apalagi rekayasa bahkan pemaksaan. 
Seorang pemimpin tidak saja mampu memimpin dirinya dan keluarganya tetapi ia juga dapat menjadi panutan masyarakat sekitarnya, sehingga layak memiliki sifat kepemimpinan. 
Dan kalau kita telusuri mengapa saat bumi diciptakan; malaikat, gunung dan lain sebagainya menolak menjadi khalifah di muka bumi ini, maka jawabannya tentu karena berat dan sulitnya beban seorang khalifah atau pemimpin itu. Malaikat saja tidak berani menyandang gelar khalifah di muka bumi.
Pemimpin tidak saja memimpin secara administratif sifatnya tetapi juga harus menjadi pemimpin dalam sikap dan perilaku. itulah bentuk kepemimpinan yang terintegrasi. Pemimpin harus mampu merasakan kelaparan, kesedihan dan penderitaan rakyat apabila rakyatnya ada yang kelaparan, bersedih dan berduka.
Sebagai contoh dalam sejarah Islam ada Khalifah Umar yang dengan rela memanggul sekarung beras dipundaknya sendiri membawa ke tempat salah satu warganya yang dilanda kelaparan. Ketakutan Umar atas azab Allah SWT menimpa dirinya akibat ada rakyatnya yang kelaparan melebihi ketakutan atas jatuhnya kewibawaannya karena memanggul sekarung beras demi rakyatnya. Toh kepemimpinan Umar yang berbuat diluar tingkat seorang pemimpin tersebut tidak dicap sebagai seorang pahlawan oleh warganya. Namun tindakannya tersebut selalu dikenang dan menjadi referensi ideal bagi seorang pemimpin saat ini.
Kalau kita melihat secara jernih hasil-hasil pembangunan saat ini baik itu pembangunan politik, hukum, ekonomi dan sosial yang semua itu berawal dari tingkat pendidikan. Maka secara bijaksana dapat kita sebutkan bahwa kita baru dalam takaran belajar jalan (ibarat seorang balita). Kita belum layak berlari bahkan lepas landas. Hukum terbukti banyak yang dapat diperjual belikan dengan berbagai metode dan taktis. Ekonomi belum memihak pada kepentingan rakyat banyak. Sehingga berakibat tingkat sosial masyarakat cenderung menciptakan penyakit sosial seperti premanisme dan kejahatan terorganisir.
Tugas kita sebagai seorang pemimpin tentu masih banyak yang belum dilakukan. Apalagi kita terlalu demen dengan gelar dan sanjungan. Dengan demikian tataran gelar pahlawan itu selayaknya belum pantas disandang.
 
 
Fastabiqul Khairat.

 
 
Muhammad Thoha
Management of Kocakholieks (MaS)

 

 

 

 

Latest Article

Dialog Ustadz dan Sekuriti

Manusia memuliakan dirinya sebagaimana manusia memuliakan Allah SWT sebagai orang yang memiliki jiwa dan raganya itu. Allah SWT memang tidak membutuhkan segala ibadah dan pengabdian manusia, tetapi hakekatnya manusialah yang membutuhkan ibadah dan pengabdian tersebut. Karena manusia itu a

Ilmuwan Muslim dalam Teori Relativitas






1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori

Yang Ghaib dalam Islam



Angin adalah sebuah benda yang manusia yakini ada tetapi tidak dapat dilihat wujudnya. Kita tidak bisa melihat bentuk angin bagaimana tetapi kita mampu merasakan hembusannya yang kadangkala bisa mengigit dirasakan.  Keterbatasan sifat manusia dalam melihat dan menggambarkan

Asal Muasal Selingkuh

Hal yang sepele ibarat menyulut api di jerami padi. Kontan semua bisa berakibat terbakar bahkan sulit dikendalikan. Api adalah perumpamaan tentang hal-hal kecil yang bisa tidak berbahaya tetapi kalau sudah besar malah membinasakan.

Seburuk-buruk Hamba

"Subhanallah. Kalian telah menunjukkan kepadaku suatu jalan yang kalian sendiri belum mengerti."

copyright © 2008 by KocakHolieks.com
Powered by MWebCentral